Thursday, February 19, 2009

TO MY FOLLOWER

My blog has moved on http://mas-devid.co.cc | Come to visit it and be my follower again
Read More - TO MY FOLLOWER
Tuesday, February 3, 2009

Sajian Matakuliah Semester IV

  1. Belajar dan Pembelajaran [4sks]
  2. Metode Numerik [2sks]
  3. Perawatan dan Perbaikan Komputer [1sks]
  4. Sistem Informasi [2sks]
  5. Bahasa Rakitan [3sks]
  6. Praktikum Bahasa Rakitan [1sks]
  7. Kurikulum Pendidikan Teknik [3sks]
  8. Media Pembelajaran Teknik [3sks]
  9. Probabilitas dan Statistik [3sks]
Read More - Sajian Matakuliah Semester IV
Ini ada beberapa E-book Bahasa Rakitan yang bisa temen-temen download :


Read More - Free E-book Bahasa Rakitan (Assembler)
Thursday, January 29, 2009

Bleach 204

Read More - Bleach 204
Tuesday, January 27, 2009

The Davinci Code Novel Download | Bahasa Indonesia


Berikut adalah download link untuk novel The Davinci Code dalam bahasa Indonesia format PDF.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/The_Da_Vinci_Code

The Da Vinci Code adalah sebuah novel karangan Dan Brown seorang penulis Amerika dan diterbitkan pada 2003 oleh Doubleday Fiction (ISBN 0-385-50420-9). Buku ini adalah salah satu buku terlaris di dunia dengan 36 juta eksemplar (hingga Agustus 2005) dan telah diterjemahkan ke dalam 44 bahasa, termasuk Indonesia. Di Indonesia diterbitkan oleh penerbit Serambi Ilmu Semesta (ISBN 979335807) pada tahun 2004.

Menggabungkan gaya detektif, thriller dan teori konspirasi, novel ini telah membantu mempopulerkan perhatian terhadap sebuah teori-teori tentang legenda Piala Suci (Holy Grail) dan peran Maria Magdalena dalam sejarah Kristen - teori-teori yang oleh Kristen dipertimbangkan sebagai ajaran sesat dan telah dikritik sebagai sejarah yang tidak akurat. Buku ini adalah bagian kedua dari trilogi yang dimulai Dan Brown dengan novel Malaikat dan Iblis (Angels and Demons) pada tahun 2000, di mana diperkenalkan karakter Robert Langdon. Pada November 2004, Random House menerbitkan "Edisi Spesial Ilustrasi", dengan 160 ilustrasi yang berselingan dengan teks.

Buku ini dibuka dengan pengakuan Dan Brown bahwa "Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus rahasia dalam novel ini adalah akurat," walaupun klaim ini diperdebatkan oleh para sarjana akademisi dalam diskusi-diskusi buku (lihat: Kritik tentang The Da Vinci Code dan daftar bacaan lain terlampir dibawah).

Klaim alur cerita mengatakan bahwa Gereja Katolik telah terlibat dalam konspirasi untuk menutupi cerita Yesus yang sebenarnya. Ini menyiratkan bahwa Vatikan dengan sadar mengetahui sedang hidup dalam suatu kepalsuan, tetapi mengerjakan sesuatu demi menjaga kekuasaannya. Para penggemar memuji bahwa buku ini kreatif, walaupun kritikus juga menyerang dengan mengatakan ketidakakuratannya dan tulisan yang buruk, dan mengutuk pendirian yang kontroversial pada peran Gereja Kristen.


Read More - The Davinci Code Novel Download | Bahasa Indonesia

KewlShare


Satu lagi nih situs upload and share file gratis bahkan bisa dapet uang per download seperti ziddu. Bedanya sama ziddu, tampilan situsnya lebih elegan tidak terlalu banyak sponsor. Uploadnya juga lebih stabil menurut saya. Yuk buruan daftar, lumayan tiap orang yang download file kita, dapet uang! $_$

Untuk mendaftar silahkan ikuti link berikut.

Read More - KewlShare

K-Lite Codec Version 4.5.3

A new version of the codec pack has been released with several updated components. New in this version is an option to choose to use an experimental MT (multi-threading) build of ffdshow. Advantage of that build compared to regular ffdshow builds is that it has better decoding performance for H.264 on CPUs with multiple cores.
This version of the codec pack is compatible with Windows 7. Tests show that there are only some issues with loading subtitles in some players. Read the FAQ for solutions for those subtitle issues.

Download: Mega - Full - Standard - Basic - Corporate

Read More - K-Lite Codec Version 4.5.3
Saturday, January 24, 2009

Tripusat Pendidikan

Keluarga
Keluarga merupakan pengelompokan primer sejumlah kecil orang karena
hubungan semenda dan sedarah. Perkembangan kebudayaan dan aspirasi individu maupun masyarakatnya menyebabkan peran keluarga terhadap anak-anaknya mengalami perubahan.
Fungsi dan peranan keluarga (di samping pemerintah dan masyarakat) dalam SISDIKNAS Indonesia tidak terbatas hanya pada pendidikan keluarga saja, tetapi keluarga juga ikut serta bertanggung jawab terhadap pendidikan lainnya. Keikutsertaan keluarga itu meliputi tahap perencanaan pemantauan dalam pelaksanaan, maupun dalam evaluasi dan perkembangan.

Sekolah
Diantara tripusat pendidikan , sekolah merupakan sarana yang sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Sekaolah seharusnya menjadi menjadi pusat pendidikan untuk menyiapkan manusia Indonesia sebagai individu warga masyarakat, warga negara dan warga dunia pada masa depan. Sekolah sebagai pusat pendidikan adalah sekolah yang mencerminkan masyarakat yang maju karena pemanfaatan secara optimal ilmu pengtahuan dan teknologi, tetapi tetap berpijak pada ciri keindonesiaan.
Suatu alternatif yang mungkin dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah antara lain:
• Pengajaran yang mendidik
• Peningkatan dan pemantapan pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan.
• Pengembang perpuatakaan sekolah menjadi suatu pusat sumber belajar (PSB).
• Peningkatan dan pemantapan program pengelolaan sekolah, khususnya yang terkait dengan peserta didik.

Masyarakat
Kaitan masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari 3 segi, yakni
- Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan.
- Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan atau kelompok sosial di masyarakat, baik langsung maupun tidak, ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.
- Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar.

Fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan sangat tergantung pada taraf perkembangan dari masyarakat beserta sumber-sumber belajar yang tersedia di dalamnya.
Media massa merupakan salah satu factor dalam lingkungan masyarakat yang makin penting peranannya. Pada umumnya media massa mempunyai 3 fungsi yakni informasi, edukasi, dan rekreasi. Media massa juga memiliki 3 macam pengaruh yakni pengaruh sosialisasi dalam arti luas, pengaruh khusus dalam jangka pendek dan memberikan pendidikan dalam pengertian yanag lebih formal


Read More - Tripusat Pendidikan
Agar menghasilkan tenaga kependidikan yang kompeten, LPTK perlu akrab dengan praktik belajar- mengajar nyata dan tidak sekadar pada tataran teori (Suyanto, 2004). PPL merupakan kegiatan terpadu, yang terdiri atas (1) pelatihan keterampilan dasar mengajar, (2) pengenalan lapangan, (3) pelatihan mengajar dan tugas kependidikan lainnya secara mandiri, dan (5) ujian praktik mengajar (Tim UPPL FKIP Unsri, 2007). Dalam melaksankan kelima komponen tersebut permasalahan yang paling menonjol adalah :

a. Pengetahuan awal mahasiswa tentang keguruan.
Pengetahuan awal meliputi pengetahuan tentang persiapan perangkat pembelajaran dan amteri pembelajaran. Dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran kadangkala terdapat persebadaan secara teknis antara pembekalan yang dilakukan oleh kampus dengan sekolah. Adanya perkembangan kurikulum yang terjadi di sekolah menengah (Kurikulum 2000, KBK dan KTSP) seringkali tidak diikuti dengan seksama oleh pihak kampus. Akibatnya, pada saat mahasiswa akan melakukan PPL beberapa format perangkat pembelajaran dan sistem penilaian tidak sesuai dengan yang mereka pelajari. Menurut Suyanto (2004) memang ada perkuliahan dan seminar tentang silabus, kurikulum, pembuatan materi ajar (material design). Bahkan, sampai ke perkembangan mutakhir. Akan tetapi, pernahkah GBPP (Garis Besar Program Pengajaran-Red), KBK dikupas dan dibahas secara tuntas atau dikritik di mimbar perkuliahan. Padahal, hal itu bersentuhan langsung dengan kegiatan belajar-mengajar.
Dari segi materi, mahasiswa PPL merasa kesulitan melakukan sinkronisasi materi pelajaran yang diterima di kampus dengan materi pada sekolah menengah. Materi kuliah biasanya lebih tinggi dan mempunyai bahasa buku teks sehingga ada beberapa mahasiswa yang merasa kesulitan menyesuaikan materi ini dengan konteks “buku paket”

Adanya pengembangan KBK menjadi KTSP mensyaratkan adanya mata pelajaran Sains dan IPS pada tingkat Sekolah Menengah Pertama. Pada saat di kampus mahasiswa hanya mempelajari satu bidang IPA saja, misalnya mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi hanya mempelajari bidang studi Biologi. Padahal, mata pelajaran Sains di sekolah meliputi Fisika, Kimia dan Biologi.

b. Kedisiplinan
Mahasiswa PPL diwajibkan mengantor empat hari di dalam satu minggu. Ada dua hari waktu yang dapat dipergunakan untuk mengambil mata kuliah atau mengulangi mata kuliah yang lain. Ada beberapa mahasiswa yang meninggalkan sekolah (PPL) untuk mengikuti perkuliahan di kampus pada hari PPL meskipun tidak diizinkan oleh pihak sekolah. Mahasiswa tersebut merasakan kewajiban empat hari mengantor di sekolah terlalu berat mengingat besarnya beban studi yang harus diselesaikan. Oleh karena itu sebaiknya PPL dilaksanakan dengan jumlah hari per minggu yang lebih sedikit dengan konsekuensi masa PPL diperpanjang.

c. Praktik Mengajar
Sebagai calon guru yang baru mulai mengajar banyak sekali masalah-masalah yang dihadapi. Berdasarkan pengamatan Maadab (2004:122-1213) selama membimbing mahasiswa PGSD yang melakukan PPL kompetensi sebagai “guru pemula” belum seperti yang diharapkan. Laporan dari guru pamong tempat mereka PPL mengatakan masih banyak kelemahan antara lain, metode penyampaian bahan yang kurang menarik, penguasaan materi yang belum mantap, dan pengelolaan kelas yang kurang baik.
Tentunya kelemahan-kelemahan seperti ini dapat diatasi dengan banyak berlatih. Berlatih mengajar dalam kaurun dua bulan akan menambah kematangan penyampaiam materi, penguasaan materi, dan pengelolaan kelas.

d. Guru Pamong belum memiliki kompetensi sebagai guru pamong
Pola PPL Gaya baru masih dilaksanakan sampai sekarang walaupun ada sedikit modifikasi. Sejak pelatihan tahun 1998, sejumlah guru yang sudah dilatih telah dimutasikan ke daerah atau sekolah lain sehingga komposisi dan jumlah guru pamong sudah berubah dari perencanaan dan proyeksi semula. Hal ini menyebabkan tidak seluruhnya pembimbingan mahasiswa PPL dilakukan oleh guru pamong yang sudah dilatih.

Sekarang ini, penunjukan seorang guru sebagai guru pamong dilakukan oleh sekolah. Pada sekolah tertentu penunjukan seorang guru pamong dilakukan kepada mereka yang belum mengikuti pembekalan PPL pola baru. Padahal seharusnya seorang guru pamong harus menguasai hakikat PPL, Fungsi dan Tanggung Jawab Guru Pamong, Penggunaan Instrumen Penilaian Kinerja Guru 1 (IPKG1), IPKG2, dsb.

Bagi sekolah yang memiliki guru pamong yang belum memenuhi kualifikasi sebagai guru pamong seringkali belum menjalankan pembimbingan dengan baik. Keadaaan ini terjadi karena ketidaktahuan mereka tentang fungsi dang tanggung jawab sebagai guru pamong.
Keadaaan mahasiswa PPL akan lebih berat bilamana seorang guru pamong bias dalam menerjemahkan tugasnya sebagai guru pamong. Proses pembimbingan dilakukan dengan cara menyerahkan seluruh tugas kesehariannya kepada mahasiswa yang dibimbingnya. Upaya pembimbingan disalahgunakan sebagai upaya pengalihan menjadi seorang asisten.
Ada lagi masalah lain yang dialami oleh mahasiswa PPL, yaitu Guru Pamong tidah mau memberi contoh cara mengajar yang baik dihadapan mahasiswa yang dibimbingnya. Sebagai seorang calon guru yang belum pernah melakukan praktik mengajar biasanya akan lebih mudah mempelajari keterampilan mengajar dengan melihat contoh yang dilakukan oleh guru pamong. Namun, kadangkala guru pamong tidak mau melakukan hal tersebut. Alasannya, guru pamong seolah-olah merasa diamati.
Upaya yang perlu dilakukan adalah, pendataan ulang jumlah dan komposisi guru pamong diperlukan, pembuatan atau revisi buku juklak PPL untuk mahasiswa, guru pamong, dan dosen pembimbing.

e. Fasilitas sekolah untuk penyelenggaraan PPL
Sekolah penyelenggara sudah sewjarnya jika menyediakan fasilitas seperti sekretariat mahasiswa PPL, laboratorium, komputer, media pembelajaran, dan sebagainya. Sekolah tertentu dengan keterbatasannya tidak memiliki fasilitas-fasilitas tersebut. Hal ini dirasakan dapat menghambat proses pembelajaran praktik mengajar.

Meskipun demikian, bagi sekolah-sekolah yang telah mempunyai fasilitas yang memadai kadang kala masih ada sekolah yang enggan meminjamkan fasilitas-fasilitas

tersebut kepada mahasiswa PPL. Mahasiswa tidak diperkenankan menggunakan komputer, peralatan laboratorium dan media-media pembelajran tertentu.
f. Berakhirnya program Program Lapangan Sedini Mungkin (PLSM)
Pengenalan dengan lingkungan sekolah tidak hanya dimulai pada saat PPL, tetapi sudah dimulai pada Program Lapangan Sedini Mungkin (PLSM) pada mata kuliah Dasar Kependidikan dan mata kuliah Proses Belajar-Mengajar yang merupakan matakuliah prasyarat yang harus diambil mahasiswa sebelum mereka mengambil mata kuliah PPL. Namun, kegiatan PLSM ini berjalan dengan baik ketika ada Proyek Pendidikan Guru Sekolah Menengah (PGSM). Ketika proyek ini berakhir, kegiatan ini tidak berjalan lagi. Hal ini disebabkab oleh beberapa alasan, yaitu (1) tidak ada dana, (2) kegiatan PLSM dirasakan mengganggu pihak sekolah karena kedatangan mahasiswa ke sekolah tidak diatur dengan baik karena cenderung berbondong-bondong, (3) dosen tidak memasukkan kegiatan PLSM di silabinya. Padahal, dari hasil pemantauan PPL 2003, diperoleh data bahwa mahasiswa sangat memerlukan kegiatan PLSM supaya mereka tidak terkejut menghadapi siswa di dalam kelas saat ber-PPL.
Read More - MASALAH-MASALAH KETIKA PPL
Setiap pendekatan dalam penelitian merupakan cara untuk memahami sesuatu, yang dalam ilmu sosial dan humaniora menurut Prof. H. Judistira K. Garna, Ph.D. (1999:59) adalah untuk memahami gejala-gejala sosial, gejala kehidupan kita sendiri ataupun orang lain. Pendekatan itu juga adalah upaya untuk mencari, menemukan, atau memberi dukungan akan kebenaran yang relatif, yang sebagai suatu model biasanya dikenal dengan paradigma. Penelitian melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif memberikan dua macam paradigma yang perlu diperhatikan.

Positivisme menekankan akan pentingnya mencari fakta dan penyebab dari gejala-gejala sosial dengan kurang memperhatikan tingkah laku subyektif individu yang dapat dimasukkan dalam kategori tertentu, yang dari anggapan itu tampak bahwa positivisme melatarbalakangi pendekatan kuantitatif. Pendekatan kualitatif menekankan akan pentingnya pemahaman tingkah laku menurut pola berpikir dan bertindak subyek kajian, karena itu paradigma alamiah atau naturalistik, mewarnai pendekatan kualitatif. Positivisme ialah pandangan filosofis yang dicirikan oleh suatu evaluasi yang positif dari ilmu dan metoda ilmiah, yang dengan demikian telah memberi dampak pada etika, agama, politik, dan filsafat serta metoda ilmiah, sehingga mempersiapkan suatu rasionalitas baru untuk melaksanakan atau operasional ilmu.

Penelitian yang kualitatif berakar dari data, dan teori berkaitan dengan pendekatan tersebut diartikan sebagai aturan dan kaidah untuk menjelaskan proporsisi atau perangkat proposisi yang dapat diformalisasikan secara deskriptif atau secara proporsional. Dua kepentingan akan terpenuhi, yaitu teori substantif disusun bagi keperluan empirik, dan teori formal bagi keperluan pengembangan. Penyusunan teori itu dilakukan melalui upaya kategorisasi dan relasi logik antara unsur-unsur dalam membina integrasi yang berlaku: analisis banding dapat dilakukan antara unsur satu dengan unsur lainnya, dan teori formal selain menguji teori formal lainnya, juga untuk analisis hasil penelitian.

Unsur-unsur berkaitan satu sama lainnya dalam melakukan fungsi menurut pola kebudayaan dari masyarakat yang diteliti, karena itu pendekatan emik dianggap penting dan tak perlu ditarik suatu generalisasi sebelum keseluruhan analisis itu selesai. Data uraian tentang data akan tampak, yang bukan sebaliknya berupa bangunan analisis yang diterapkan pada data. Atas asumsi bahwasanya tingkah laku yang terpolakan itu adalah menurut runtutan tindakan warga masyarakat yang menjadi obyek kajian, maka gaya analisis struktural memberikan keleluasan uraian dari kajian empirik. Ilmu-ilmu sosial tidak berubah bentuk, karena yang berubah adalah paradigma-paradigmanya, selain itu dilihat dari epistemologinya masih mengacu kepada peningkatan ilmu-ilmu sosial, meneliti fakta sosial dalam semua bentuk, dan mencari asal perjalanan institusi sosial dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Penggunaan metode kuantitatif, positivistik dan asumsi telah ditolak oleh peneliti kualitatif generasi yang terikat dan mendukung aliran poststruktural, postmodern yang sensitif. Para peneliti berargumentasi bahwa metode positivistik bukan jalan menceritakan kisah tentang masyarakat atau dunia sosial. Mereka juga bukan yang utama atau tidak lebih buruk dari metode yang lain, merka hanya dikatakan sebagai suatu perbedaan dari semacam kisah yang dimiliki.

Para ahli dari kelompok teori kritis, konstruktivis dan aliran postmodern menolak kriteria positivis dan postpositivist sebagai pekerjaan yang layak. Mereka melihat bahwa kriteria itu tidak sesuai untuk kegiatan lapangan dan isinya merupakan reproduksi kriteria yang selalu memiliki macam kepastian dari sains, padahal sains itu bisu dan penuh kekerasan. Peneliti justru melihat bahwa kegiatan evaluasi kerja mengandung emosi, tanggapan pribadi, kebusukan pada etika, political praxis, teks kekerasan dan dialog dengan subjek. Sebaliknya positivistik menggunakan kelemahan di atas untuk bertahan diri dengan argumentasi bahwa mereka adalah sains yang baik, bebas dari bias individual dan subjektivitas; sebagai catatan bebas mereka melihat postmodern sebagai suatu serangan terhadap pikiran dan kebenaran.

Menurut Prof. Dr. H. Noeng Muhadjir (2000:319-321) bahwa penelitian antropologi kultural dan sosiologi terdiri atas: ethnologi orientalis, ethnography, ethnomethodologi dan critical ethnography. Ethnologi Orientalis yang dilandasi asumsi bahwa budaya banyak negara di Timur lebih inferior dibanding dengan budaya Barat, berkembang studi kebudayaan primitif yang disebut ethnologi. Ethnography bertolak dari asumsi ethnosentrisme, yaitu bahwa terjadi pengelompokan atas dasar kesamaan keyakinan atau kesamaan budaya atau kesamaan tradisi terdapat keberbedaan yang dapat dideskripsikan, tetapi tidak dapat digeneralisasikan. Karena itu berkembang studi deskriptif beragam budaya sebagai studi ethnography. Karena tradisi dan budaya masyarakat maju telah sangat luas dipelajari, maka ada semacam pemisahan antara studi ethnography bagi satuan-satuan masyarakat minoritas dengan studi antroplogi dan sosiologi bagi satuan-satuan masyarakat yang sudah lebih berkembang.
Ethnography bersifat idiographik “mendeskripsikan” budaya dan tradisi yang ada, dilawankan dengan studi nomothetik yang mengeneralisasikan temuan-temuan (dalam hal ini sosiologi). Era ethnography ini berada pada era positivisme. Kerangka teoritik dan kriteria pola budaya yang dipakai untuk “mendeskripsikan” budaya satuan minoritas dalam studi ethnography adalah teori dan kriteria budaya Barat. Akibatnya “deskripsinya” banyak bias; masyarakat minoritas dan masyarakat negara berkembang dilihat sebagai terbelakang, budayanya masih rendah, dan seterusnya.

Ethnomethologi termasuk era postpositivistik. Perintisnya adalah Garfinkel. Keyakinan, budaya, dan tradisi dideskripsikan sebagai masyarakat itu sendiri meyakini dan menyadarinya. Tidak lagi menggunakan kerangka teori atau kriteria Barat, melainkan diangkat dari grass root sebagaimana masyarakat itu sendiri menjelaskan. Dengan demikian studi ethnomethologi berkembang pada lingkungan masyarakat lebih luas. Studi ini menjadi overlap atau tumpang tindih dengan studi antropologi dan studi sosiologi; atau dalam visi menyatukan sering pula dikatakan ethnometologi merupakan salah satu model atau cara untuk mempelajari sosiologi atau antropologi.

Critical Ethnography merupakan hasil proses dialektik; pada satu sisi tumbuh dari ketidakpuasan dengan struktur masyarakat berupa kelas sosial, patriarkhat, dan rasialis, sehingga manusia sebagai pelaku sosial human tidak dapat tampil. Yang tampil hanyalah representasi kelas, ras dan gender. Pada sisi lain demokratisasi tanpa pembedaan kelas, ras dan gender pernah dapat muncul. Entah sadar entah tidak, telenovela dari Meksiko yang ditayangkan pada berbagai televisi di Indonesia telah dan sedang menanamkan struktur masyarakat berkelas.

Dalam perkembangannya ilmu sosial sejak tahun 1960-an, hal mana politik dan intelektualisme meragi (ferment) dan menantang grand theories dan metodologi ortodox (maksudnya metodologi fungsional) yang tampil “obyektif”, tetapi sebenarnya hendak mempertahankan kemapanan. Gerakan ini berupaya meninggalkan teori-teori substantif, dan mengembangkan interpretasi dan diskursus tentang realitas sosial itu sendiri. Critical Ethnography oleh Lather (dalam Muhadjir, 2000:320) disebut sebagai openly ideological research dalam konsep konvensional. Critical Ethnography, sebagaimana interpretivist, juga men-generate insights, menjelaskan kejadian dan mencari pemahaman. Para interpretivist memaknai realitas sosial sesuai dengan experience-near daripada pemaknaan peneliti sendiri, demikian Geertz. Meskipun demikian interpretivist adalah rekonstruksionist atas realitas sosial.

Penganut teori kritis dalam ethnography mencermati bahwa studi ethnographi sudah terlalu bersifat teoritis dan bersikap netral atas struktur sosial yang ada. Critical ethnography mencermati bahwa struktur sosial seperti sistem kelas, patriarkhat, dan rasisme bertentangan dengan humanisme. Pemikiran ilmu sosial pada tahun 1960-an mulai menggugat grand theories dan metodologi berfikir yang cenderung memapankan ketidakadilan

Read More - Pendekatan Ilmu Sosial Terhadap Post-Modern